Monday, November 29, 2010

Selamat Tinggal

nekad
yang lalu
kini berlalu
akupun mau beransur pergi

selamat tinggal
aku tak bisa berpaling lagi
aku tak bisa berdalih lagi
aku mesti pergi

selamat tinggal
kenangan kita itu
hanya membawa aku
kepada suatu kenyataan
pulang ke titik yang asal

selamat tinggal
aku hanya bisa
menjadi aku
yang hilang rona
dan wajahnya

perjuangan aku
letaknya
di sebelah sana

selamat tinggal
aku takkan kembali

Merapi Eruption and the lost of lives

My deepest sympathies to all Indonesian and condolences to families that have lost their loved ones.

Let us continue praying
may Allah strengthen our bonds
tighter than ever

Monday, October 18, 2010

The Hierarchy

the top
are the untouchables
blood of a different color
never set their foot
onto the soil

the executioners
are thugs
half cooked if not totally raw
dark and greasy

the people
sunk in knowledge
drowned in absolute fascination
disconnected entirely
from creativity
very silent

Flotilla Incidence

Forgotten
diluted

as we know
as we predicted
as we are all used to

forgotten
diluted

Wednesday, September 8, 2010

Malam Itu

Malam itu
bahkan
pokok-pokok mau saja membongkok
dan bersujud

telahlah aku
setega-tega
menitis jua airmata

wajahku sembam serapat-rapat
ke perut ibuku

kiranya
dicinta jua
tanpa duga
tercecah juga

malam itu
janji tak dimungkiri
sesaat tidak dilewati

Monday, May 31, 2010

Flotilla

in the name of 'interception'
yet another bully carried out
again and again

as usual, no surprise

a fight of no match
weaponless enemies
killing humanitarian warriors
of numerous flags and colors
stalling ship loads of food and medicine

anger uproars
condemnation pours
until the day
the news went stale

a nation of pride
built upon avenge
prejudice and hatred
lived only
behind their own fences

yet another incidence
where blood and lost of lives
don't matter at all
just as the good looks whistles
on hypocrisy he rides away
with various insights and accounts

the world witness
the rape of humanity
right in front of
their very own eyes

Saturday, May 29, 2010

The Smile

Someone up there
smiles upon me
that brought sunshine
to my heart

Someone up there
watches upon me
that brought cheers
to my soul

Someone here
by my side
keep me accompanied
never lonesome

Wednesday, March 24, 2010

Mursyid Jamaluddin

Tirai melabuh jua akhirnya buat Mursyid. Adik yang aku sayangi namun tak pernah terucap. Adik amat hampir namun dijauhkan.

Allah mengujinya. Allah menguji Ayahnya. Allah menguji kami semua. Kami gagal kesemuanya. Mursyid pulang dalam kemenangan.

Dari tampan dan segak bertukar wajah. Senyum masih ada. Hilang penglihatan jalan meraba-raba, suara tetap mesra. Hilang kekuatan, masih bersolat. Hampir sangat dengan ajal seketika dulu, tapi tak jadi. Hidup kembali.

Aku di kejauhan ketika itu. Hanya Ayah menemani. Bersama doa dan airmatanya.

Akhirnya Mursyid yang hilang penglihatan pergi jua. Ketika bergelut dengan mini market di Shah Alam.

Kemenangan buatmu, adik Mursyid.

Anak-Anak Kita

anak-anak kita
anak-anak sedara kita
kecil-kecil
duduk atas riba

anak-anak kita
anak-anak sedara kita
kini telah dewasa
duduk semeja
depan kita

bergurau
bersenda

kerja bersama
berniaga bersama kita
berniaga dengan kita

anak-anak kita
anak-anak sedara kita
kini mereka
telah dewasa

Saturday, February 27, 2010

Aku Dan Secawan Kopi Cairku

Hari ini, aku dengan secawan kopiku, ketika waktu hampir tengah hari, aku memerhati. Wajah-wajah sedih, datang dan pergi, silih berganti, sibuk sekali. Aku berteman kopi cairku, bertanya, mengapa kalian sedih sekali.

Tatkala itu, hanya siulan dalam hatiku, dan kocakkan kopiku menari-menari.

Mungkin kita meniti, seratus hari. Hari-hari yang dijanjikan. Panasnya terik sekali, mentari sejengkal jari, haus dan dahaga sekali.

Bermula mungkin bibit kesedihan hari ini. Detik-detik seratus hari kita terus meniti.
Dengan secawan kopi, aku siulkan fikiran pergi.

Cita-cita Kita

Masih adakah
Cita-cita murni
Untuk kita dokong
Di hari mereka memerintah

Bila kita lihat
Cara mereka meletak kenderaan
Rakus pemanduan
Pandang tidak sebelah mata
Berhati perut dunia semata
Segalanya halal belaka
Dan wanita-wanita mereka
Yang menangnya
Kulit yang putih
Peha yang kurus
Rambut yang kuning
Yang tampaknya
Sihat-sihat belaka

Di hari itu
Siapakah kita
Sedang teramat dibenci hari ini
Apakah nasib anak-anak kita
Apakah balasan
Keluhuran
Dan segala niat bersih kita

Masih adakah cita-cita
Untuk kita dokongi

Benar Tanpa Dusta

Jauh
Di rimba
Di dalamnya
Ada hati yang hiba
Menanti yang tiada
Menunggu yang tak tiba
Hanya terpandangnya
Bagaikan bersama
Sentiasa

Di sini
Dalam kepanasan kota
Kusahut suaranya
Biar berdarah
Lukanya tetap ada
Untukku nyatakan
Sememangnya, sebenarnya
Aku tetap ada
Dan ianya benar belaka
Sungguh, tanpa dusta

Kebenaran ini
Tak terlintasku dustakan
Kerna ianya nyata
Biar seumur hidupku
Berendam airmata

Sunday, February 21, 2010

Pesanan Ringkas

pesanan ringkas ini
ia tidak tertulis
tamat sudah sendiwara
aku tak lagi merintih
tak berduka cita

ia pula tak bermakna
aku tidak cinta
dan dalam suara yang bisu
ia tak bererti
aku tidak rindu

dan pesanan ringkas ini
termaktub segalanya
isi hatiku